moNggO
siLahkaN
lidah api matahari raksasa
Matahari menjulurkan lidah api pada tanggal 15 Februari 2011 lalu. Juluran lidah api yang terjadi tergolong dalam kelas X2 dan tergolong juluran terkuat yang pernah terjadi dalam kurun waktu 4 tahun terakhir.
Lidah api adalah ledakan besar di atmosfer matahari yang bisa melepaskan energi sebesar 6 x 10 (25) Joule. Lidah api ini dibagi dalam beberapa kelas berdasarkan kekuatannya, di mana yang terbesar adalah kelas X.
Lidah api bisa memengaruhi seluruh lapisan atmosfer matahari. Lidah api akan meningkatkan temperatur plasma hingga jutaan Kelvin, menghasilkan radiasi dari beragam panjang gelombang dan menyebabkan lontaran massa korona.
Lidah api terkuat yang terjadi kemarin berasal dari bintik matahari nomor 1158. Lidah api tersebut merupakan lidah api tertama dari siklus matahari saat ini (solar Cycle 24) yang dimulai 8 Januari 2008 lalu.
"Ini adalah lidah api terbesar yang terjadi sejak 6 Desember 2006," kata Phill Chamberlin, ilmuwan yang terlibat dalam proyek Solar Dynamics Observatory NASA. "Kami terkejut ketika mengetahui ini adalah kelas X," lanjutnya.
Chamberlin mengungkapkan, lidah api kelas X kali ini akan diikuti oleh lidah api kelas X yang akan terjadi 2-4 tahun mendatang. Frekuensi terjadinya lidah api akan memuncak ketika mendekari siklus matahari maksimum.
Lontaran massa korona yang terjadi akibat lidah api ini akan mencapai bumi kurang lebih Kamis (17/2/2011) besok, antara 36-48 jam setelah lidah api terjadi. Lontaran massa korona bisa menyebabkan badai geomagnetik.
Gangguan badai matahari Dampak badai geomagnetik sendiri takkan terlalu siginifikan. Kemungkinan yang terjadi adalah gangguan komunikasi satelit, gangguan sinyal GPS, gangguan jaringan listrik dan kemungkinan korosi pada jaringan bawah tanah.
Jika ada dampak lain, maka dampak ini justru tampak manis. Ketika lontaran masa korona sampai ke bumi, di belahan utara bumi akan muncul fenomena aurora borealis, tampak seperti semburat cahaya matahari dengan berbagai pola.
Sayangnya fenomena terakhir hanya bisa disaksikan jika berada di lintang tinggi. Lidah api matahari sendiri pertama kali diobservasi secara independen oleh Richard Hodgson pada tahun 1859.
Situs astronomi lokal, Langitselatan.com memberitakan bahwa Alfan Nasrulloh sempat mengamati fenomena lidah api ini dengan menggunakan teleskop radio JOVE di observatorium Bosscha.
"Observatorium Bosscha bisa terlibat aktif di radio (frekuensi rendah) untuk 'menyambut' siklus aktifitas matahari ke-24 dengan puncak aktifitas matahari sekitar 2012-2014 dalam bentuk solar patrol," demikian diberitakan situs itu.
Lubang Hitam yang Terusir dari Pusat Galaksi
Pada area galaksi yang sangat jauh, para astronom menemukan keberadaan sebuah lubang hitam super masif yang keluar dari galaksi dengan kecepatan yang sangat tinggi. Lubang hitam yang tampak oleh sinar X sebagai bintang tidaklah berada pada lokasinya yang normal di pusat galaksi.
Yang menarik dari lubang yang sudah dilontarkan keluar dari galaksi itu, ia akan memberikan informasi tentang bagaimana sebuah lubang hitam super masif terbentuk di pusat galaksi.
Bintang Aneh dan Unik
Lingkaran merah menunjukkan keberadaan lubang hitam yang berada di luar galaksi. Kredit : Hubble
Mahasiswa Universitas Utrecht, Marianne Heida menemukan sebuah bintang aneh dalam pengerjaan tugas akhirnya yang dikerjakan di SRON Netherlands Institute for Space Research. Bintang itu ia temukan di galaksi yang berada lebih dari setengah milyar tahun cahaya jauhnya. Saat menemukan bintang ini, Marianne melakukan perbandingan dengan ratusan ribu sumber sinar X disertai perbandingan dengan posisi jutaan galaksi.
Secara normal, setiap galaksi memiliki lubang hitam super masif di pusat sisem yang kadang tampak bersinar dalam sinar X. Nah, dalam kasus ini, bintang yang ditemukan Heida tidak berada di pusat siste,. Namun dalam sinar-X obyek ini tampak sangat cerlang sehingga ia justru cocok untuk dibandingkan dengan lubang hitam super masif cerlang lainnya di alam semesta.
Lubang Hitam Yang Terusir Lubang hitam supermasif di pusat galaksi memiliki berat lebih dari 1 milyar kali massa Matahari. Obyek yang sedemikian berat ini hanya bisa berada jauh dari pusat galaksi jika ia sudah terlontar keluar dari galakso pada kecepatan tertentu. Pengusiran ini bisa saja terjadi pada kondisi tertentu saat dua lubang hitam bergabung.
Lubang hitam yang baru terbentuk setelah mengalami proses penggabungan ditembak keluar dari dari pusat galaksi pada kecepatan yang sangat tinggi. Selama beberapa tahun terakhir memang sudah dibuat berbagai kemungkinan tentang kejadian ini dan terungkap juga kalau kecepatan lubang tersebut bergantung pada arah dan kecepatan rotasi kedua lubang hitam pada sumbunya sebelum bergabung.
Hasil penelitian Marianne Heida diperkirakan merupakan puncak gunung es. Menurut Heida, ia masih menemukan banyak keanehan dari kelas sumber sinar-X yang sedang ia teliti. Namun untuk mengenal lebih lanjut obyek yang ia temukan, masih dibutuhkan pengukuran yang lebih akurat dari satelit Chandra milik NASA. Penemuan lubang hitam yang sudah terlontar keluar dari galaksi akan memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai karakteristik lubang hitam sebelum mengalami penggabungan.
Di masa depan, pengamatan proses merger tersebut bisa lebih dimungkinkan dengan menggunakan satelit LISA yang sedang dirancang. LISA diharapkan akan dapat menghitung gelombang gravitasi yang dipancarkan oleh 2 lubang hitam yang bergabung. Lebih jauh lagi, informasi yang didapat bisa memberitahukan apakah lubang hitam super masif di pusat galaksi merupakan penggabungan beberapa lubang hitam yang lebih ringan.
Yang menarik dari lubang yang sudah dilontarkan keluar dari galaksi itu, ia akan memberikan informasi tentang bagaimana sebuah lubang hitam super masif terbentuk di pusat galaksi.
Bintang Aneh dan Unik
Lingkaran merah menunjukkan keberadaan lubang hitam yang berada di luar galaksi. Kredit : Hubble
Mahasiswa Universitas Utrecht, Marianne Heida menemukan sebuah bintang aneh dalam pengerjaan tugas akhirnya yang dikerjakan di SRON Netherlands Institute for Space Research. Bintang itu ia temukan di galaksi yang berada lebih dari setengah milyar tahun cahaya jauhnya. Saat menemukan bintang ini, Marianne melakukan perbandingan dengan ratusan ribu sumber sinar X disertai perbandingan dengan posisi jutaan galaksi.
Secara normal, setiap galaksi memiliki lubang hitam super masif di pusat sisem yang kadang tampak bersinar dalam sinar X. Nah, dalam kasus ini, bintang yang ditemukan Heida tidak berada di pusat siste,. Namun dalam sinar-X obyek ini tampak sangat cerlang sehingga ia justru cocok untuk dibandingkan dengan lubang hitam super masif cerlang lainnya di alam semesta.
Lubang Hitam Yang Terusir Lubang hitam supermasif di pusat galaksi memiliki berat lebih dari 1 milyar kali massa Matahari. Obyek yang sedemikian berat ini hanya bisa berada jauh dari pusat galaksi jika ia sudah terlontar keluar dari galakso pada kecepatan tertentu. Pengusiran ini bisa saja terjadi pada kondisi tertentu saat dua lubang hitam bergabung.
Lubang hitam yang baru terbentuk setelah mengalami proses penggabungan ditembak keluar dari dari pusat galaksi pada kecepatan yang sangat tinggi. Selama beberapa tahun terakhir memang sudah dibuat berbagai kemungkinan tentang kejadian ini dan terungkap juga kalau kecepatan lubang tersebut bergantung pada arah dan kecepatan rotasi kedua lubang hitam pada sumbunya sebelum bergabung.
Hasil penelitian Marianne Heida diperkirakan merupakan puncak gunung es. Menurut Heida, ia masih menemukan banyak keanehan dari kelas sumber sinar-X yang sedang ia teliti. Namun untuk mengenal lebih lanjut obyek yang ia temukan, masih dibutuhkan pengukuran yang lebih akurat dari satelit Chandra milik NASA. Penemuan lubang hitam yang sudah terlontar keluar dari galaksi akan memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai karakteristik lubang hitam sebelum mengalami penggabungan.
Di masa depan, pengamatan proses merger tersebut bisa lebih dimungkinkan dengan menggunakan satelit LISA yang sedang dirancang. LISA diharapkan akan dapat menghitung gelombang gravitasi yang dipancarkan oleh 2 lubang hitam yang bergabung. Lebih jauh lagi, informasi yang didapat bisa memberitahukan apakah lubang hitam super masif di pusat galaksi merupakan penggabungan beberapa lubang hitam yang lebih ringan.
Monster yang Hidup di Galaksi Besar
Ada monster mengintip di luar angkasa, nama monster itu Lubang Hitam. Apapun yang ada di dekatnya akan ditarik dengan tenaga yang kuat dan tidak akan punya kesempatan untuk lolos. Monster ini akan melahapnya!.
Galaksi-galaksi yang memiliki lubang hitam di pusatnya ditandai oleh warna merah. Kredit : CFHT/IAP/Terapix/CNRS/ESO
Ia melahap apa saja, bahkan cahaya – yang paling cepat di alam semesta. Cahaya pun tidak akan bisa lolos dari monster ini. Inilah mengapa si lubang hitam ini hitam. Tapi yang harus diingat, lubang hitam itu bukan sebuah lubang dan bukanlah sesuatu yang kosong. Lubang hitam sebenarnya diisi oleh banyak sekali materi yang memenuhi daerah yang sangat kecil.
Tapi astronom tahu kalau ada juga lubang hitam raksasa dan mereka ini hidup di pusat sebagian besar galaksi termasuk di galaksi kita sendiri yaitu Bima Sakti! Monster raksasa ini disebut juga “Lubang Hitam Super Masif”. Jangan panik: Bumi dan seluruh Tata Surya berada jauh sekali sehingga tidak akan berada dalam bahaya yang dipengaruhi oleh lubang hitam super masif di pusat Bima Sakti.
Sebagian dari lubang hitam super masif tidak memiliki materi di dekatnya untuk dilahap. Tapi sebagian lainnya memiliki sajian lengkap dari benda-benda kosmik dalam jangkauannya untuk disantap. Nah, si lubang hitam yang sedang makan jauh lebih mudah ditemukan di alam semesta, karena materi yang akan dilahap itu bersinar terang sebelum ia kemudian menghilang selamanya dalam mulut monster itu. Galaksi yang memiliki lubang hitam super masif dalam foto di atas di beri tanda warna merah.
Para astronom bercita-cita untuk menemukan sebagian besar monster yang sedang makan di pusat galaksi ukuran menengah. Tapi dalam pengamatan terbaru diperlihatkan kalau monster tersebut kebanyakan berada di pusat galaksi yang lebih besar 20 kali dari yang diharapkan para astrnom.
Penemuan mengejutkan ini berarti para astronom harus kembali berhitung di papan tulis untuk mencari tahu kenapa prediksi mereka salah. Kadang para astronom pun tidak langsung mendapatkan jawaban yang tepat pada awalnya! Tapi itulah yang namanya penelitian, bukti baru akan membawa para astronom meninjau kembali teori yang sudah ada .
Fakta Menarik : Untuk membuat lubang hitam kecil, kamu harus meremas benda yang massanya sama dengan massa Bumi menjadi sekecil bola yang memiliki diameter beberapa milimeter!
Galaksi-galaksi yang memiliki lubang hitam di pusatnya ditandai oleh warna merah. Kredit : CFHT/IAP/Terapix/CNRS/ESO
Ia melahap apa saja, bahkan cahaya – yang paling cepat di alam semesta. Cahaya pun tidak akan bisa lolos dari monster ini. Inilah mengapa si lubang hitam ini hitam. Tapi yang harus diingat, lubang hitam itu bukan sebuah lubang dan bukanlah sesuatu yang kosong. Lubang hitam sebenarnya diisi oleh banyak sekali materi yang memenuhi daerah yang sangat kecil.
Tapi astronom tahu kalau ada juga lubang hitam raksasa dan mereka ini hidup di pusat sebagian besar galaksi termasuk di galaksi kita sendiri yaitu Bima Sakti! Monster raksasa ini disebut juga “Lubang Hitam Super Masif”. Jangan panik: Bumi dan seluruh Tata Surya berada jauh sekali sehingga tidak akan berada dalam bahaya yang dipengaruhi oleh lubang hitam super masif di pusat Bima Sakti.
Sebagian dari lubang hitam super masif tidak memiliki materi di dekatnya untuk dilahap. Tapi sebagian lainnya memiliki sajian lengkap dari benda-benda kosmik dalam jangkauannya untuk disantap. Nah, si lubang hitam yang sedang makan jauh lebih mudah ditemukan di alam semesta, karena materi yang akan dilahap itu bersinar terang sebelum ia kemudian menghilang selamanya dalam mulut monster itu. Galaksi yang memiliki lubang hitam super masif dalam foto di atas di beri tanda warna merah.
Para astronom bercita-cita untuk menemukan sebagian besar monster yang sedang makan di pusat galaksi ukuran menengah. Tapi dalam pengamatan terbaru diperlihatkan kalau monster tersebut kebanyakan berada di pusat galaksi yang lebih besar 20 kali dari yang diharapkan para astrnom.
Penemuan mengejutkan ini berarti para astronom harus kembali berhitung di papan tulis untuk mencari tahu kenapa prediksi mereka salah. Kadang para astronom pun tidak langsung mendapatkan jawaban yang tepat pada awalnya! Tapi itulah yang namanya penelitian, bukti baru akan membawa para astronom meninjau kembali teori yang sudah ada .
Fakta Menarik : Untuk membuat lubang hitam kecil, kamu harus meremas benda yang massanya sama dengan massa Bumi menjadi sekecil bola yang memiliki diameter beberapa milimeter!
Partikel yang Bergerak Melebihi Kecepatan Cahaya
Para ilmuwan mengemukakan sebuah hasil penelitian baru di Jenewa, bahwa partikel neutrino bergerak lebih cepat dari cahaya. Ini telah menanamkan keraguan tentang ruang, waktu, dan teori penciptaan alam semesta saat ini. Neutrino yang merupakan partikel sub-atomik, diklaim oleh para ilmuwan pusat penelitian nuklir CERN, berkecepatan lebih besar 60 nanodetik dari cahaya. Mereka kini meminta komunitas internasional untuk memastikan hasil penelitian ini. Percobaan dilakukan dengan jarak 730 km, antara sumber di Jenewa dan detektor, yang terletak di laboratorium bawah tanah Italia.
[Dario Autiero, Peneliti CNRS, Ahli Fisika Partikel]: “Di jarak tersebut, kami menemukan bahwa neutrino lebih cepat 60 nanodetik, atau seper 60 miliar detik lebih cepat dari waktu yang dihabiskan cahaya untuk menempuh jarak yang sama. Dalam hitungan jarak, mereka lebih maju 20 meter di jarak 730 kilometer.”
Para peneliti CERN telah menguji teori ini sejak tahun 2008. Penemuan awalnya adalah di bulan Maret, dan mereka mengetesnya selama enam bulan. Hasilnya sangat konsisten, sehingga mereka memutuskan untuk menyerahkannya ke komunitas internasional.
Sambil menunggu penemuan ini diakui keabsahannya, dunia pun menahan nafas untuk menantikan gebrakan selanjutnya dari dunia fisika.
Penemuan Sistem Planet Terkecil oleh Kepler
Kepler kembali mengejutkan dunia dengan penemuan planet-planetnya! Ia tidak sekedar menunjukkan mampu menemukan planet-planet di bintang lain melainkan juga menunjukan kalau ia mampu untuk mendeteksi planet yang bahkan lebih kecil dari Bumi dan menunjukkan betapa sistem keplanetan yang ada di Galaksi Bima Sakti sangat beragam!
Ilustrasi sistem keplanetan KOI-961. kredit : NASA/JPL-Caltech
Tiga planet ditemukan Kepler sedang mengitari bintang tunggal bernama KOI-961, bintang katai merah redup yang berada 130 tahun cahaya dari Bumi. Yang menarik sistem keplanetan di KOI-961 ini memiliki kemiripan skala dengan sistem Jupiter dan satelit-satelitnya. Artinya, planet di sistem ini memiliki ukuran yang kecil.
Dan memang demikian. Ketiga planet di sistem KOI-961 ini memiliki ukuran 0,78, 0,73 dan 0,57 kali radius Bumi, dengan yang terkecil memiliki ukuran hampir sama dengan Mars.
“Inilah sistem “tata surya” terkecil yang pernah ditemukan sampai saat ini dan inilah bukti keragaman sistem keplanetan di galaksi kita”, kata John Johnson kepala penelitian dari Exoplanet Science Institute milik NASA di California Institute of Technology, Pasadena.
Perbandingan sistem Jupiter dan sistem KOI-961. kredit : NASA/JPL-Caltech
Sistem Planet KOI-961 Ketiga planet di sistem KOI-961 diduga merupakan planet batuan seperti halnya Bumi, tapi ketiganya memiliki orbit yang lebih dekat denga bintang induknya. Dengan jarak yang dekat, ketiga planet ini akan sangat panas untuk bisa berada dalam zona laik huni, tempat dimana air dalam wujud cair bisa ada.
Dari 700 lebih exoplanet yang sudah ditemukan sampai saat ini, hanya segelintir yang kita ketahui merupakan planet batuan dan lebih sedikit lagi yang berada di dalam zona laik huni. Mengapa penting mencari yang ada di zona laik huni? Tentu tak lain dan tak bukan karena keingintahuan manusia untuk menemukan kembaran Bumi di luar sana.
Setelah awal tahun 2011 Kepler mengumumkan 1200 kandidat planet yang ia temukan, dalam rentang satu tahun kandidat-kandidat tersebut pun mulai dikonfirmasi dengan hasil yang menakjubkan. Beragam sistem ditemukan dan Kepler menyajikan kepada manusia kalau ia memang dapat diandalkan untuk mencari planet-planet mungil seperti Bumi.
Penemuan planet seukuran Mars menjadi catatan rekor tersendiri bagi Kepler yang memberi petunjuk masih banyak sekali planet batuan di sekitar kita.
Konfirmasi Planet di Katai Merah Wahana Kepler didedikasikan untuk bertugas memonitor lebih dari 150000 bintang, mencari perubahan yang sangat kecil seperti kedipan sesaat pada kecerlangan bintang yang disebabkan oleh planet yang sedang melintas atau transit di depan wajah sang Bintang. Transit yang tampak adalah saat planet melintas di depan bagian bintang yang berhadapan dengan Kepler. Untuk bisa menentukan bahwa yang dilihat adalah sebuah planet, dibutuhkan 3 kejadian transit untuk bisa memverifikasi sinyal yang didapat tersebut. Dan setelah itu harus dilakukan pengamatan lanjutan dengan menggunakan teleskop landas Bumi untuk bisa mengkonfirmasi penemuan tersebut.
Untuk ketiga planet di sistem KOI-961 tersebut, pengamatan landas Bumi dilakukan oleh tim yang dipimpin oleh astronom dari California Institute of Technology di Pasadena. Tim ini menggunakan data yang dirilis Kepler dan kemudian melakukan pengamatan dari Observatorium Palomar, San Diego dan dari Observatorium W.M. Keck di puncak Mauna Kea, Hawaii. Pengukuran yang mereka lakukan ternyata justru merevisi ukuran planet dari dugaan awal.
Ketiga planet ini juga berada sangat dekat dengan bintangnya dan hanya membutuhkan waktu kurang dari dua hari untuk mengitari sang bintang. Bintang KOI-961 sendiri merupakan bintang katai merah dengan diameter hanya 1/6 dari siameter Matahari atau 70% lebih besar dari Jupiter.
Bintang katai merah merupakan jenis bintang yang umum terdapat di galaksi Bima Sakti dan penemuan ketiga planet batuan ini menjadi indikasi kalau galaksi bisa dipenuhi planet-planet batuan serupa. Sistem seperti ini bisa ada dimana-mana dan akan menjadi tantangan baru bagi para pemburu planet untuk bisa menemukannya. Siapa tahu satu diantaranya adalah si kembar Bumi.
Ilustrasi sistem keplanetan KOI-961. kredit : NASA/JPL-Caltech
Tiga planet ditemukan Kepler sedang mengitari bintang tunggal bernama KOI-961, bintang katai merah redup yang berada 130 tahun cahaya dari Bumi. Yang menarik sistem keplanetan di KOI-961 ini memiliki kemiripan skala dengan sistem Jupiter dan satelit-satelitnya. Artinya, planet di sistem ini memiliki ukuran yang kecil.
Dan memang demikian. Ketiga planet di sistem KOI-961 ini memiliki ukuran 0,78, 0,73 dan 0,57 kali radius Bumi, dengan yang terkecil memiliki ukuran hampir sama dengan Mars.
“Inilah sistem “tata surya” terkecil yang pernah ditemukan sampai saat ini dan inilah bukti keragaman sistem keplanetan di galaksi kita”, kata John Johnson kepala penelitian dari Exoplanet Science Institute milik NASA di California Institute of Technology, Pasadena.
Perbandingan sistem Jupiter dan sistem KOI-961. kredit : NASA/JPL-Caltech
Sistem Planet KOI-961 Ketiga planet di sistem KOI-961 diduga merupakan planet batuan seperti halnya Bumi, tapi ketiganya memiliki orbit yang lebih dekat denga bintang induknya. Dengan jarak yang dekat, ketiga planet ini akan sangat panas untuk bisa berada dalam zona laik huni, tempat dimana air dalam wujud cair bisa ada.
Dari 700 lebih exoplanet yang sudah ditemukan sampai saat ini, hanya segelintir yang kita ketahui merupakan planet batuan dan lebih sedikit lagi yang berada di dalam zona laik huni. Mengapa penting mencari yang ada di zona laik huni? Tentu tak lain dan tak bukan karena keingintahuan manusia untuk menemukan kembaran Bumi di luar sana.
Setelah awal tahun 2011 Kepler mengumumkan 1200 kandidat planet yang ia temukan, dalam rentang satu tahun kandidat-kandidat tersebut pun mulai dikonfirmasi dengan hasil yang menakjubkan. Beragam sistem ditemukan dan Kepler menyajikan kepada manusia kalau ia memang dapat diandalkan untuk mencari planet-planet mungil seperti Bumi.
Penemuan planet seukuran Mars menjadi catatan rekor tersendiri bagi Kepler yang memberi petunjuk masih banyak sekali planet batuan di sekitar kita.
Konfirmasi Planet di Katai Merah Wahana Kepler didedikasikan untuk bertugas memonitor lebih dari 150000 bintang, mencari perubahan yang sangat kecil seperti kedipan sesaat pada kecerlangan bintang yang disebabkan oleh planet yang sedang melintas atau transit di depan wajah sang Bintang. Transit yang tampak adalah saat planet melintas di depan bagian bintang yang berhadapan dengan Kepler. Untuk bisa menentukan bahwa yang dilihat adalah sebuah planet, dibutuhkan 3 kejadian transit untuk bisa memverifikasi sinyal yang didapat tersebut. Dan setelah itu harus dilakukan pengamatan lanjutan dengan menggunakan teleskop landas Bumi untuk bisa mengkonfirmasi penemuan tersebut.
Untuk ketiga planet di sistem KOI-961 tersebut, pengamatan landas Bumi dilakukan oleh tim yang dipimpin oleh astronom dari California Institute of Technology di Pasadena. Tim ini menggunakan data yang dirilis Kepler dan kemudian melakukan pengamatan dari Observatorium Palomar, San Diego dan dari Observatorium W.M. Keck di puncak Mauna Kea, Hawaii. Pengukuran yang mereka lakukan ternyata justru merevisi ukuran planet dari dugaan awal.
Ketiga planet ini juga berada sangat dekat dengan bintangnya dan hanya membutuhkan waktu kurang dari dua hari untuk mengitari sang bintang. Bintang KOI-961 sendiri merupakan bintang katai merah dengan diameter hanya 1/6 dari siameter Matahari atau 70% lebih besar dari Jupiter.
Bintang katai merah merupakan jenis bintang yang umum terdapat di galaksi Bima Sakti dan penemuan ketiga planet batuan ini menjadi indikasi kalau galaksi bisa dipenuhi planet-planet batuan serupa. Sistem seperti ini bisa ada dimana-mana dan akan menjadi tantangan baru bagi para pemburu planet untuk bisa menemukannya. Siapa tahu satu diantaranya adalah si kembar Bumi.
Klub Liga Primer Inggris Incar Igor Denisov
Bursa transfer baru dibuka Januari mendatang namun Manchester City, Manchester United, Arsenal, dan Liverpool sudah menyiapkan pilihan pemain. Salah satunya adalah Denisov.
Kapten tim nasional Rusia itu menjadi incaran mereka. Gaya permainan Denisov dinilai sangat cocok untuk Liga Primer. Selain itu empat klub elit Liga Primer tersebut juga yakin kalau niat mereka bakal mendapat tanggapan positif menyusul hubungan yang tidak harmonis Denisov dengan klubnya Zenit St. Petersburg.
Hubungan Denisov dengan Zenit memburuk menyusul kedatangan Hulk dan Axel Witsel. Denisov mengkritik belanja berlebihan yang dilakukan klub. Dia menilai kalau £ 72 juta terlalu besar untuk dua pemain tersebut. Akibat ucapannya tersebut, klub pun menghukumnya.
Denisov tak lagi ambil bagian di tim utama. Sekarang Denisov bermain untuk tim muda Zenit bersama Alexander Kerzhakov yang turut mendukung aksinya.
"Saya tidak mengerti mengapa klub rela mengeluarkan banyak uang untuk dua pemain tersebut. Jika klub mendatangkan Lionel Messi atau Andres Iniesta dengan biaya mahal saya tidak akan melakukan protes karena mereka berdua memang pemain hebat," tutur Denisov.
Shinji Kagawa Cedera Punggung
Shinji Kagawa tidak dimainkan Jepang saat mereka sukses menghajar Irak 1-0 pada laga lanjutan kualifikasi Piala Dunia 2014 Zona Asia.
Gelandang milik Manchester United tersebut dilaporkan mengalami masalah pada punggung bagian bawah saat menjalani sesi latihan.
"Kagawa mengeluah rasa sakit pada bagian punggung bawah sesaat setelah menjalani sesi latihan tim kemarin," ungkap ofisial JFA.
"Saat itu kami memutuskan untuk memantau situasi dan menunggu tetapi Kagawa gagal pulih 100 persen. Meski demikian dia tidak perlu dilarikan ke rumah sakit."
Langganan:
Komentar (Atom)







